Thursday, October 13, 2011


BUKAN BERTANYA…….
 “Dalam filsafat ilmu, kebenaran itu relative tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Sesuatu yang benar menurut seseorang belum tentu benar menurut orang lain. Seringkali yang berlaku hanyalah pendapat umum. Ketika banyak orang mengatakan sesuatu itu benar, maka sesuatu itu menjadi benar dan ketika banyak orang mengatakan itu salah maka sesuatu itu menjadi salah”, tak peduli apakah kita setuju atau tidak”. Setidaknya itu yang bisa kusimpulkan dari kuliah hari ini. Lantas dimana letak logika dan perasaan ?

“Kalo mau memahami filsafat dengan baik, harus jadi orang gila dulu.. “ Faridz berkata sambil tertawa lepas.
“Wis.. ra ngerti blas. Males aku kalo ngomongin hal-hal yang aneh gitu” Mba Lenni ikut-ikutan protes.
“Setidaknya kan kita tahu bahwa terhadap suatu hal setiap orang boleh berbeda menanggapinya. Tidak bisa kita paksakan untuk memiliki pendapat yang sama dengan kita. Dan kita juga tidak gampang menyalahkan orang lain, karena salah menurut kita belum tentu menurut mereka salah. Dan benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain” Pak Raden (he..he.. nama benar lho) yang memang paling tua
diantara kami seperti biasa dengan arif menyampaikan pendapatnya.
“Trus pendapatmu ?” Mba Lenni tiba-tiba menyenggol bahuku. Aku yang dari tadi memang ga konsent dengan pembicaraan mereka jadi bingung sendiri menanggapi.
“Aku ? Mungkin karena itu kadang seseorang yang sangat realistis pun, tidak mampu berpikir realistis untuk satu hal tertentu ya ? Apalagi kalo bicara perasaan” sahutku asal-asalan.
“Halah iki nambah-nambahin pusing, lah perasaan dibawa-bawa” Mba Lenni yang emang rame langsung protes dengan pendapatku.

He..he.. aku cuma tertawa dengan tanggapannya. Nah tuh kan.. setiap orang boleh kan memiliki pendapat sendiri-sendiri…
Buatku menyatukan akal sehat dengan perasaan seringkali emang ga mudah. Membuat hati dan otak sama-sama berkata “salah” atau sama-sama berkata “benar” seringkali bukanlah hal yang mudah. Untuk satu hal tertentu seringkali kita terlalu naïf, padahal mungkin menurut orang lain hal itu biasa saja dan sudah jelas nilainya : salah atau benar.

Atau karena aku perempuan ? yang menurut sebagian ahli psikologi lebih mengutamakan perasaan dibandingkan akal sehat ? Terlalu lemah jika berhadapan dengan perasaan..? (karena itu kali ya perempuan itu gampang ditipu dan diperalat.. he..he.. kasian banget perempuan) jadi pingin nyanyi lagu Once “Matilah Kau”… (ha..ha.. lebih suka Once-nya daripada isi lagunya)

Menjadi lebih sulit lagi ketika kita sadar banget bahwa kita adalah orang yang seharusnya mampu berpikir realistis, ga naïf dan ga gila (berlaku udah pendapat umum tentang seseorang). Yang terjadi adalah penyesalan yang ga habis-habisnya atas “kebodohan” kita. Bertanya “kenapa aku bisa seperti ini?” “Kemana semua logika-ku?”

Aku jadi sadar mengapa kemudian kita seringkali terheran-heran atas sikap atau kelakuan seseorang yang ga mencerminkan banget siapa dia. “Koq bisa ya dia seperti itu?” “Ga masuk akal banget..” he..he.. seringkali itu kemudian yang kita simpulkan atas kesalahan yang dilakukan seseorang yang menurut pendapat umum seharusnya tidak dilakukannya. Padahal mungkin saja saat itu dia ga mampu mengendalikan seluruh akal sehatnya (hmm.. jadi ingat lagu “Akal Sehat”  Ada Band).

Mengendalikan diri emang sulit. Mengalahkan perasaan dan memenangkan akal sehat memang ga mudah. Ga peduli seberapa tinggi tingkat pendidikan seseorang. Dan ketika kesalahan itu telah dilakukan menjadi sangat sulit untuk memaafkan diri sendiri. Merasa salah dan bodoh bukanlah hal yang menyenangkan. Menyakitkan dan menguras semua ketegaran.

Seperti prajurit yang kalah dimedan perang, berlari jauh bersama luka-lukanya yang menganga
Merasakan pedih disetiap tetes darah yang mengalir
Berharap dia segera mati agar tak merasakan lagi kekalahan dan pedih luka itu..
Tapi Tuhan tak menginginkan dia mati secepat itu..
Tuhan membiarkan dia tetap hidup.. berlari dan mengobati semua luka itu.. belajar banyak hal dari semua itu..
Tuhan begitu baik..
Ingin Dia mampu menerima (penerimaan yang indah)
Ingin Dia mampu mengerti (pengertian yang benar)
Indin Dia mampu memahami (pemahaman yang tulus)
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.

Hanya Tuhan yang selalu benar (itu yang seharusnya aku katakan atas pertanyaan Mba Lenny… ) Dan tak perlu gila dulu untuk memahami banyak hal. Aku cuma manusia biasa yang mungkin terlihat sempurna dalam beberapa hal, namun tetap saja aku tak pernah akan bisa sempurna dalam seluruh hal, mungkin aku tak seharusnya merasa begitu bersalah dan bodoh hanya karena aku seringkali memilih jujur dengan perasaanku.

“Cuma pada Tuhan akhirnya aku boleh bertanya tentang semua hal, mengapa ? dan apakah arti semua ini ? ini benar atau salah ? Dan berharap Tuhan selalu memberi jawaban untuk setiap pertanyaanku”.

(The falling leaf doesn’t hate the wind; The Story Zatoichi; Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-Tere Liye)

1 comment:

kiai mas said...

bagus juga tulisanmu,bu.. ada bakat terpendam kliatannya...hahahaha