Wednesday, August 8, 2012

DAN....

Dan deretan huruf itu begitu saja jatuh dari pangkuanmu. Mungkin kau tak sengaja menjatuhkannya saat jendela itu terbuka dan membiarkan angin dengan leluasa menyapamu.
“Ketidaksengajaan” yang akan membawamu pada banyak hal rumit yang tak mampu kau uraikan, atas dasar apapun dan atas keinginan apapun.  “Ketidaksengajaan” yang tak ingin kau akui sebagai suatu ketidaksengajaan. “Ketidaksengajaan yang ingin kau sebut
“sesuatu yang telah dituliskan” tapi kau tak pernah berani menyetujui itu.
Ketika kau tahu ada huruf yang hilang dari kalimat-kalimat yang kau tuliskan, mengapa kau tak berusaha mengumpulkannya agar kembali sempurna. Agar kau tetap bisa membaca dan mengerti maknanya. Mengapa membiarkan deretan itu tak utuh ? Mengapa kau begitu lemah hanya untuk mencari yang hilang ? Mengapa meninggalkan “sesuatu” yang begitu ingin kau patuhi ?
Aku tahu… Dia melihatmu.. dan bertanya “apa yang kau cari ?”
“Sesuatu yang hilang saat ketidaksengajaan itu menghampiriku. Bisakah kau menunjukkannya padaku ?”
Aku tahu… Dia tak begitu saja menjawabmu… dan justru bertanya “mengapa kau membiarkannya hilang?” dan “mengapa kau bertanya itu padaku ?”
Termangu-mangu memandang hujan yang berlomba-lomba ingin segera sampai ke bumi, ingin mengaliri apa saja yang ditemukannya, berharap banyak hal yang dapat diceritakannya ketika akhirnya yang dimilikinya hanya waktu untuk berdiam, karena tak ada pintu yang terbuka untuk bertemu cerita lainnya.

“Masih mencari ?” Tiba-tiba saja dia kembali bertanya padamu. Aku tahu, … kau tak bisa menjawab apapun. Kau bahkan tak yakin ada yang pernah hilang darimu.
Setelah itu.. Setiap dia datang menghampirimu, kau tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu. Kau bahkan lupa pernah menanyakan itu padanya. Kemana keinginanmu untuk mengerti ? Aku tak tahu kalau kau begitu lemah untuk mengerti. Yang kutahu.. kau begitu kuat untuk bisa memahami apapun.
Aku melihatmu… dan apa yang kau jaga dipangkuanmu. Tanganmu begitu kuat menggenggamnya tapi aku tahu ketidaksempurnaan yang kau sembunyikan di dalamnya. Bahkan sebagian sampulnya terlihat tak sempurna karena tersentuh basah. Dari hujan kah ? atau dari airmatamu ?
Aku ingin menghampirimu.. sebelum dia datang kembali.. dan bertanya padamu, “Bisakah kau membiarkan aku membaca apa yang ada digenggamanmu ?”. 
Aku ingin berkata “kau tak perlu takut untuk membukanya lagi. Agar kau tahu apa yang hilang dari genggamanmu”. Membiarkannya tertutup dan tetap dalam genggamanmu tak akan memberi petunjuk untuk mencari yang hilang”.
“Sudahlah.. aku sudah cukup bersalah membiarkan deretan huruf itu jatuh dari pangkuanku. Dan aku tak ingin itu terulang lagi”. Jawaban yang tak ingin aku dengar, tapi itu yang kau pilih. Kau aneh dengan keinginanmu untuk mencari dan keinginanmu untuk tak ingin tahu apa yang kau cari.
Dan deretan huruf itu begitu saja jatuh dari pangkuanmu. Mungkin kau tak sengaja menjatuhkannya saat jendela itu terbuka dan membiarkan angin dengan leluasa menyapamu.
Tapi mereka sudah jatuh dan hujan telah membawanya begitu jauh darimu, bahkan hujan telah mengenalkannya pada banyak cerita. Bisakah kau menunggu mereka kembali dan bercerita padamu ?
Mungkin saja kau akan memaafkan dirimu atas “ketidaksengajaan” itu dan kau tak perlu takut untuk menyebut “ketidaksengajaan” itu adalah  “sesuatu yang telah dituliskan”.
Dan Sekali ini… Maukah kau mendengarkan aku ?
(Terinspirasi “Tentang Musim” Sonata Musim Kelima “Ian Fang”)

1 comment:

satri28 said...

brrrrrr.... terasa merinding membaca tulisan ini.. sangat menyentuh..